Sempat terjadi ketegangan dalam aksi demo tersebut. Satpam sekolah yang mencoba membubarkan kerumunan massa mendapat penentangan siswa. Adu mulut pun tak terelakkan. Tak hanya itu, beberapa siswa sempat melempari ruang lobi sekolah dengan sampah kertas.
Belum puas melakukan orasi di halaman sekolah, siswa memasuki ruang-ruang kelas. Layaknya kampanye politik, beberapa siswa melanjutkan orasi di atas bangku. Ada pula yang menggalang dukungan lewat pembubuhan tanda tangan rekan-rekannya di kain putih.
Aksi unjuk rasa itu merupakan puncak kekesalan terhadap kebijakan sekolah yang dianggap otoriter. Pihak siswa tidak diberi kewenangan dalam menentukan berbagai kegiatan. Bahkan, program ekstrakurikuler malah dihapus. Praktis, kegiatan yang dapat menumbuhkan kreativitas siswa itu sekadar formalitas. Padahal, pihak sekolah membebani Rp 90 ribu permurid.
''Saat kami minta untuk direalisasikan dengan kegiatan-kegiatan positif siswa, alasan pak kepala sekolah anggaran sudah habis untuk keperluan sekolah,'' terang Salindri, salah seorang siswa, kepada koran ini.
Dikatakannya, kekecewaan siswa juga dipicu sikap kasek sering membuat keputusan sepihak terkait permasalahan yang menyangkut sekolah. Perilaku yang dinilai otoriter itu yang dituding sebagai pemicu ketidakharmonisan internal sekolah. ''Kalau begini terus, sekolah tidak akan maju. Bisanya hanya menyalahkan bawahan saja. Tidak mampu memberi solusi yang tepat,'' katanya.
Sugeng, siswa yang lain, menambahkan, bila tuntutan penonaktifan kasek tidak secepatnya direalisasikan, siswa akan ngluruk ke Kantor Kementerian Agama (Depag) untuk segera diambil tindakan proaktif. Siswa juga mengacam mogok belajar jika tuntutan penonaktifan kasek tidak segera ditindak lanjuti. ''Kami akan terus berjuang untuk dapat melengserkan kasek,'' tandasnya.
Sementara, kasek Suyadi di hadapan wartawan mengatakan, tuduhan siswa yang mengarah kepada dirinya salah kaprah. Menurut dia, kebijakan dan mekanisme guna menjalankan manajemen sekolah selama ini sudah prosedural. Begitu pula anggaran yang digunakan untuk kegiatan ekstra kurikuler berada di tangan bendahara. ''Yang terpenting saya sudah menjalankan jabatan kasek berdasar tupoksi (tugas pokok dan fungsi, Red),'' ujarnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar